"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Ramadhan 2026 Dekat, Lupa Utang Puasa? Ini Panduan Qadha Lengkap

Pergantian Tahun dan Kewajiban Qadha Puasa

Pergantian tahun menuju 2026 kini tinggal menghitung hari. Bagi umat Muslim, momen ini tidak hanya menjadi penutup kalender masehi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah semakin dekat. Mengacu pada kalender Hijriah Kementerian Agama (Kemenag), awal Ramadhan 2026 diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Meski kepastian tanggal masih menunggu hasil sidang isbat, satu kewajiban penting sudah seharusnya mulai menjadi perhatian, yakni melunasi utang puasa Ramadhan tahun sebelumnya (qadha puasa). Di tengah masyarakat, persoalan yang kerap muncul adalah lupa jumlah hari puasa yang harus diganti, terutama di kalangan perempuan yang memiliki uzur syar’i seperti haid, hamil, atau menyusui.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa melunasi utang puasa sebelum datangnya Ramadhan berikutnya merupakan kewajiban syariat yang tidak boleh diabaikan. “Kewajiban ini dikenal dengan istilah qadha puasa, yaitu mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan sejumlah hari yang sama dengan hari yang tidak dijalankan,” ujar Arsad.

Kewajiban qadha puasa tersebut merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 184, yang menegaskan bahwa puasa yang ditinggalkan harus diganti pada hari lain sesuai jumlahnya. Meskipun waktu pelaksanaan qadha tergolong lapang, yakni sejak berakhirnya Ramadhan hingga datangnya Ramadhan tahun berikutnya, kenyataannya banyak orang yang belum sempat melunasinya hingga mendekati tenggat waktu.

Penundaan ini bisa terjadi karena udzur syar’i seperti sakit berkepanjangan, atau akibat kelalaian dan sikap menunda-nunda tanpa alasan yang sah. Arsad mengingatkan bahwa menunda qadha puasa hingga memasuki Ramadhan berikutnya tanpa alasan yang dibenarkan hukumnya adalah haram dan berdosa. Oleh karena itu, bagi mereka yang lupa dengan jumlah hari utang puasanya, kondisi tersebut tidak serta-merta menggugurkan kewajiban.

Seseorang tetap diwajibkan untuk membayar atau mengqadha puasa yang telah ditinggalkan. Lantas, bagaimana solusinya jika seseorang benar-benar lupa dan kehilangan hitungan jumlah hari puasa yang ditinggalkan?

Cara Bayar Utang Puasa Jika Lupa Jumlah Harinya

Untuk mengatasi keraguan tersebut, terdapat beberapa metode atau tata cara ijtihad yang bisa dilakukan. Berikut beberapa metode yang bisa dilakukan:

1. Gunakan prinsip ijtihad (memperkirakan)

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa bagi mereka yang lupa jumlah hari utangnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan ijtihad. Seseorang bisa memperkirakan jumlah hari yang paling mendekati kebenaran berdasarkan ingatan dan keyakinannya.

Artinya, seseorang tidak perlu terpaku pada angka eksak jika memang sudah tidak ingat, namun wajib membuat estimasi yang paling masuk akal agar beban kewajiban tetap tertunaikan sebelum Ramadhan berikutnya tiba.

2. Metode “puberty to present” ala Ustaz Abdul Somad

Sementara itu, dai kondang asal Riau, Ustad Abdul Somad juga membagikan beberapa metode membayar utang puasa jika lupa jumlah harinya. Solusi yang ditawarkan menggunakan pendekatan matematika yang praktis, khususnya bagi seseorang yang punya utang puasa menumpuk selama bertahun-tahun sejak masa remaja.

Metode ini dilakukan dengan cara menghitung rentang waktu sejak seseorang mengalami akil baligh hingga usia saat ini. Contohnya, apabila seorang wanita mulai akil baligh pada usia 10 tahun dan baru menyadari kewajiban melunasi utangnya di usia 30 tahun, maka terdapat rentang waktu 20 tahun yang harus dihitung.

Cara perhitungannya adalah dengan mengambil rata-rata hari berhalangan (seperti haid atau sakit) dalam setahun, lalu dikalikan dengan jumlah tahun tersebut. Jika rata-rata tidak berpuasa adalah 30 hari per tahun, maka total utang yang harus dibayar adalah 600 hari (30 hari x 20 tahun).

Strategi mencicil ini bertujuan agar beban yang terlihat besar menjadi lebih ringan dan terukur.

3. Mengambil angka terbanyak untuk keyakinan

Metode lain yang sangat dianjurkan ketika seseorang benar-benar lupa jumlah hari utang puasanya adalah dengan mengambil angka tertinggi atau jumlah yang paling maksimal. Strategi ini diambil berdasarkan kaidah fikih yang menyarankan untuk mengambil keputusan yang lebih besar demi mencapai keyakinan (prudensial).

Dalam konteks utang puasa, prinsip “meyakinkan” berarti mengambil jumlah hari yang paling banyak. Sebagai contoh, jika seseorang ragu apakah utang puasanya berjumlah 10 atau 12 hari, maka ia sangat disarankan untuk memilih 12 hari.

Mengambil angka yang lebih berat dianggap jauh lebih aman karena secara otomatis akan menggugurkan beban kewajiban sepenuhnya dari pundak seseorang.

Waktu Bayar Utang Puasa Ramadhan dan Kewajiban Fidiyah

Selain soal jumlah hari, ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan qadha puasa. Tidak harus berurutan, menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI, Arsad Hidayat, dalam pelaksanaannya, qadha puasa tidak harus dilakukan secara berurutan.

“Tidak terdapat dalil yang mewajibkan qadha puasa dilakukan berturut-turut. Ayat Al-Baqarah 184 tersebut hanya menekankan kewajiban mengganti puasa sesuai jumlah hari yang ditinggalkan,” jelas Arsad.

Hukum fidiyah terkait dengan kewajiban fidyah atau membayar puasa dengan makanan yang diberikan kepada orang miskin akibat penundaan qadha puasa. Arsad mengungkapkan bahwa para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat menunda qadha puasa sampai Ramadhan berikutnya tidak mewajibkan fidyah, baik penundaan itu disebabkan oleh udzur maupun tidak.

Namun demikian, pendapat yang menyatakan adanya kewajiban fidyah akibat penundaan qadha puasa hingga Ramadhan berikutnya tidak memiliki landasan nash yang sahih untuk dijadikan hujjah. Dengan demikian, tidak ada kewajiban fidyah secara mutlak, meskipun penundaan qadha puasa dilakukan tanpa udzur.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *