Penangkapan Bupati Bekasi dan Dugaan Keterlibatan Keluarga
Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan (OTT) bersama ayahnya, HM Kunang. Peristiwa ini menimbulkan reaksi kuat dari masyarakat setempat, terutama karena sosok HM Kunang yang dikenal sebagai tokoh berpengaruh di Cikarang.
HM Kunang, yang sering disebut sebagai jawara, memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut. Ia dikenal sebagai figur yang sering muncul sebagai simbol kekuatan dan kebanggaan lokal. Penangkapan ini memicu gelombang kemarahan warga, yang merasa bahwa kasus ini bukan hanya tentang individu, melainkan cerminan dari sistem yang tidak sehat di daerah.
Selain itu, penangkapan ini juga mengungkap dugaan keterlibatan relasi kekuasaan dan praktik transaksional yang selama ini menjadi perhatian warga Bekasi. Situasi ini membuat banyak orang khawatir akan masa depan pemerintahan daerah tersebut.
Kekecewaan Warga Bekasi
Kekecewaan warga Bekasi semakin memuncak setelah kantor pemerintahan disegel dan aparat penegak hukum melakukan penggeledahan. Mereka menilai bahwa kasus ini bukan sekadar persoalan hukum individu, tetapi mencerminkan bobroknya tata kelola dan pengawasan kekuasaan di daerah.
Yoga Pratama, seorang warga Kabupaten Bekasi, menyampaikan pendapatnya mengenai situasi ini. Ia mengatakan bahwa korupsi di daerah tempat tinggalnya, yang dilakukan pimpinan tertinggi, membuatnya pesimis. Menurutnya, ketika mendengar berita penangkapan ini, ia merasa lebih pesimis lagi.
Ia juga mengingat kejadian serupa pada era kepemimpinan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, yang ditangkap KPK pada 2018 silam gara-gara suap. Yoga berharap ada revolusi secara struktural agar Kabupaten Bekasi tidak terus-menerus terjebak dalam masalah korupsi.
Qisti Adnan, warga Babelan, juga merasa kecewa dengan legasi buruk yang selalu diwariskan para elit politik di tingkat daerah. Ia berharap para elit politik di Kabupaten Bekasi segera bertaubat dan lahir pemimpin yang benar-benar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pengaruh Politik HM Kunang
HM Kunang memiliki jejak kepemimpinan yang jelas saat menjabat Kepala Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi. Selain itu, ia juga mendirikan organisasi seperti Ikatan Putra Daerah (IKAPUD) serta Garda Pasundan, yang memperkuat solidaritas warga Bekasi.

Dia juga merupakan tokoh sentral yang menopang karier politik putranya. Jejaring yang dibangunnya selama puluhan tahun di Desa Sukadami dan wilayah sekitarnya disebut menjadi faktor penting hingga Ade Kuswara Kunang bisa menjadi Bupati Bekasi.
Desa Sukadami sendiri strategis secara geografis, dengan akses mudah ke Cikarang Pusat dan Serang Baru, serta berbatasan dengan sejumlah wilayah penting di Kabupaten Bekasi.
Jejak Abah Kunang di Cikarang
Sebagai tokoh berpengaruh, HM Kunang memiliki jejak kemakmuran yang terlihat nyata di kawasan Sukadami. Ia menempati rumah dua lantai dengan desain yang khas. Lebih dari itu, ia memiliki lahan seluas hampir dua hektare yang menjadi bukti kerja kerasnya.
Lahan yang awalnya merupakan area persawahan tersebut kini telah bertransformasi menjadi kompleks hunian yang ia siapkan khusus bagi masa depan anak-anaknya. “Tanah sawah itu luasnya hampir dua hektar, sekarang sudah dibangun rumah untuk anak-anak,” ungkap HM Kunang saat menceritakan investasinya.
Tak hanya aset tanah, ia juga dikenal loyal terhadap keluarga dengan memfasilitasi sejumlah kendaraan bagi anggota keluarganya. Selama masa kepemimpinannya sebagai kepala desa, HM Kunang dikenal memiliki reputasi baik dan aktif dalam pembangunan desa serta kegiatan sosial.

Beredar kabar, Abang Kunang adalah orang kuat yang selama ini menopang sang anak. Dia dikenal sebagai tokoh sentral dan punya pengaruh politik sangat besar. Karir politik sang anak, Ade Kuswara hingga menduduki posisi Bupati Bekasi disebut-sebut tidak lepas dari campur tangan dan jejaring yang dibangun Abah Kunang selama puluhan tahun jadi Kades Sukadami.
Desa Sukadami terletak di Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Wilayah ini strategis karena dilintasi jalan-jalan utama penghubung kabupaten. Berbatasan dengan Ciantra dan Sukaresmi di utara, Sukasari di Selatan serta Ciantra dan Jayasampurna di barat dan memiliki aksebilitas baik ke Cikarang Pusat dan Serang Baru.











