Prestasi Robi Syianturi di SEA Games 2025 dan Perjalanan Karier yang Menakjubkan
Prestasi luar biasa yang diraih oleh Robi Syianturi pada nomor maraton 42 kilometer dalam ajang SEA Games Thailand 2025, Minggu (14/12), tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di Asia Tenggara, tetapi juga menjadi momen bersejarah dalam kariernya sebagai atlet lari jarak jauh. Medali emas yang ia raih adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh dengan dedikasi dan semangat.
Perasaan bangga tentu saja menyelimuti mantan pelatihnya, Junaidi, meskipun ia tidak dapat hadir langsung di Thailand. Kebanggaan itu terasa lebih dalam ketika lagu kebangsaan Indonesia berkumandang di tengah lapangan. Junaidi bisa dibilang sebagai orang pertama yang menemukan potensi Robi sebelas tahun silam. Dari pengalamannya, ia mengungkap bahwa awal mula Robi menjadi pelari justru berasal dari olahraga sepak bola.
“SEA Games itu puncak dengan medali emas. Tapi mimpi Robi belum selesai. Dia masih ingin melangkah ke Asian Games sampai Olimpiade,” ujar Junaidi saat ditemui posbelitung.co, Selasa (16/12).
Dua pekan sebelum keberangkatan ke Thailand, Junaidi sempat melatih Robi yang pulang sejenak dari pemusatan latihan di Kenya. Robi hanya memiliki waktu dua hari di kampung halaman untuk bertemu orang tuanya, dan momen itu dimanfaatkan Junaidi untuk kembali mengasah fisik dan mental anak didiknya. Bahkan setelah menang kemarin, Robi sempat video call dengan Junaidi.
Kisah pertemuan mereka bermula sekitar akhir 2014. Saat itu, Junaidi mendapat rekomendasi dari Daryono, guru olahraga di SMKN 1 Tanjungpandan. Daryono bercerita tentang seorang siswa bertubuh kecil, pemain sepak bola, namun memiliki kecepatan lari di atas rata-rata. Robi kala itu belum sepenuhnya yakin menekuni atletik. Namun Junaidi melihat sesuatu yang berbeda. Ia mengajak Robi mengikuti tes lari lima kilometer bersama atlet binaannya. Hasilnya memang belum istimewa, tetapi semangat Robi mencuri perhatian.
Sejak saat itu, Junaidi terus meyakinkan Robi untuk disiplin berlatih. Jalan yang dilalui tak selalu mulus. Robi sempat hampir menyerah karena harus membantu orang tuanya bekerja. Dalam kondisi itu, Junaidi memilih langkah yang tak biasa. “Saya pernah bayar dia supaya tidak jualan buah di pasar dan tetap latihan,” ungkapnya.
Motivasi pun diperkuat dengan mengajak Robi mengikuti lomba-lomba lari. Event besar pertama yang diikuti adalah kejuaraan di Batam, dengan biaya pribadi. Hasilnya di luar dugaan: Robi keluar sebagai juara dan membawa pulang hadiah Rp5 juta. Dari situ dia makin yakin. Apalagi di sana dia bertemu atlet-atlet nasional seperti Agus Prayogo, Juhari Johan, dan Acong.
Prestasi demi prestasi mulai diraih. Robi kemudian tampil di Kejuaraan Nasional di bawah naungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Meski hanya meraih medali perunggu, pintu pelatnas terbuka lebar. Kesempatan itu menjadi titik balik karier Robi menuju level internasional.
Setelah menyabet emas di SEA Games ini, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) mengganjar atlet Robi Syianturi dengan penghargaan berupa uang serta beasiswa dokter spesialis di Jakarta untuk istrinya. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Hidayat Arsani saat Robi Syianturi pulang kampung ke Kabupaten Belitung, Jumat (19/12/2025). Gubernur Hidayat Arsani menyambut Robi Syianturi sebagai bentuk terimakasih lantaran telah mengharumkan nama Indonesia dengan meraih emas di marathon 42 KM SEA Games Thailand 2025.
Robi Syianturi merupakan salah satu pelari jarak jauh terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Pemuda kelahiran Belitung, 8 Januari 1998 ini dikenal sebagai atlet yang konsisten menorehkan prestasi, baik di level nasional maupun internasional. Selain mendapatkan emas di SEA Games 2025, nama Robi juga sempat mencuri perhatian publik olahraga Tanah Air setelah ia berhasil memecahkan rekor nasional half marathon yang telah bertahan hampir tiga dekade. Rekor bersejarah tersebut dicetak Robi pada ajang Gold Coast Marathon di Australia tahun 2024. Ia mencatatkan waktu 1 jam 4 menit 48 detik, sekaligus mematahkan rekor lama milik Eduardus Nabunome yang bertahan sejak 1997 dengan waktu 1 jam 5 menit 43 detik. Pencapaian itu menegaskan posisi Robi sebagai pelari jarak jauh elite Indonesia di era modern.











