Keharmonisan Berawal dari Pemaafan
Kisah pencurian pisang di Desa Bumijaya, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel) akhirnya berakhir dengan cara yang sangat mulia. Kasus ini tidak hanya menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap keamanan tetapi juga mengajarkan pentingnya memaafkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kasus tersebut, korban adalah S (56), warga Bumijaya. Empat tandan pisangnya (menurun/kepok) diambil oleh dua pelaku, ML (27) dan F (23), yang merupakan warga Desa Ketapang, Kecamatan Bajuin. Mereka sempat berhadapan dengan hukum karena perbuatan mereka, namun akhirnya memilih untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf secara langsung kepada S, pemilik kebun pisang di RT 8 Dusun 3 Bumijaya.
Dengan suara pelan dan wajah tertunduk, keduanya menyampaikan penyesalan atas perbuatan yang dilakukan tanpa seizin pemilik. Permohonan maaf itu disambut S dengan sikap tenang. Alih-alih memperpanjang persoalan, ia memilih memaafkan dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Bagi S, yang terpenting adalah kedua pelaku sadar dan tidak mengulangi lagi perbuatan serupa.
Polsek Pelaihari memfasilitasi pertemuan tersebut sebagai bagian dari upaya problem solving dan penguatan keamanan dan ketertiban masyarakat. Pendekatan humanis ini membuka ruang dialog, mempertemukan hati, dan menghadirkan solusi tanpa harus berujung di meja hijau.
Mediasi tersebut disaksikan jajaran Polsek Pelaihari, di antaranya Kanit Binmas Aiptu Mujianto, Aiptu Zainal serta Aiptu Bimo A dari Unit Reskrim, bersama aparat Desa Bumijaya dan keluarga kedua belah pihak. Kesepakatan damai pun dicapai. ML dan F berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa, baik terhadap S maupun warga lainnya. “Mereka juga menyatakan siap diproses secara hukum apabila di kemudian hari melanggar kesepakatan tersebut,” ucap Kapolres Tala AKBP Ricky Boy Siallagan melalui Kapolsek Pelaihari Iptu Benny Wishnu Wardhany, Kamis (18/12/2025).
Di balik kasus sederhana tersebut, terselip pesan penting tentang nilai kejujuran, keikhlasan memaafkan, dan peran aparat kepolisian dalam menjaga harmoni sosial. Bahwa hukum tak selalu harus keras, tetapi bisa hadir sebagai jembatan yang menguatkan hubungan antarwarga.
Manfaat Memaafkan untuk Kesehatan Mental dan Fisik
Menurut Everett L. Worthington Jr., PhD, Profesor Emeritus di Virginia Commonwealth University, Richmond, memaafkan memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental dan fisik. Berikut tiga manfaat utama memaafkan:
-
Memaafkan Membantu Anda Mengelola Stres
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tidak bisa memaafkan akan terus menumbuhkan perasaan marah, permusuhan, dan stres, yang didokumentasikan dengan baik untuk mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. Sebuah studi yang diterbitkan pada April 2016 dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine melibatkan lebih dari 330 orang berusia 16 hingga 79 tahun. Para peneliti menemukan bahwa orang yang mampu memaafkan mengalami penurunan persepsi mereka tentang stres mereka sendiri. Dan penurunan ini menyebabkan penurunan tekanan psikologis. -
Memaafkan Mengaktifkan Sistem Saraf Parasimpatik
Menurut Worthington, memaafkan juga mempengaruhi sistem saraf parasimpatis, yang memperlambat pernapasan dan detak jantung, serta meningkatkan pencernaan. Ini juga dikenal sebagai respons “istirahat dan cerna” (mengendalikan fungsi tubuh biasa) – atau kebalikan dari respons melawan-atau-lari (yang mempersiapkan tubuh untuk aktivitas fisik yang lebih berat). Sistem saraf simpatik dan parasimpatis bekerja bersama, sehingga tubuh Anda dapat mengatur hal-hal seperti tekanan darah dan detak jantung, dan berfungsi sebagaimana mestinya, baik dalam situasi stres maupun saat-saat tanpa stres. -
Memaafkan Membantu Menurunkan Risiko Gangguan Psikologis
Menurut Worthington, tindakan tidak memaafkan seseorang atau menolak memaafkan seseorang hampir selalu ditandai dengan merenungkan dan memikirkan masalah tersebut berulang kali. Jika kita terus memikirkannya, maka itu justru dapat menyebabkan gangguan psikologis. Bergantung pada cara Anda memikirkannya, pikiran invasif dan berulang ini pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan kemarahan, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), stres pasca-trauma (PTSD), kecemasan, depresi, atau gangguan psikosomatik.











