"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Anak dan Orang Tua Disasar oleh Kejahatan Culik

Tindakan yang Harus Dilakukan untuk Menghadapi Kejahatan Penculikan Anak

Para pelaku penculikan sudah menyiapkan beberapa rencana. Mereka melakukan survei dan mempelajari profil korban. Tinggal menunggu waktu, niat sudah ada dan disiapkan, tinggal kesempatan.

Motif dari kejahatan ini sangat beragam, ada motif ekonomi, ada juga karena retaknya hubungan relasional. Motif ekonomi sendiri terbagi lagi menjadi tiga, yaitu minta tebusan, untuk dieksploitasi atau diperdagangkan. Hal ini diungkapkan oleh kriminolog dari UI, Haniva Hasna dalam acara Hotroom dengan host Hotman Paris Hutapea.

Anak korban penculikan tidak hanya dari kalangan ekonomi berada, tetapi bisa menimpa anak dari keluarga tidak berpunya. Korban dieksploitasi, dijadikan pengemis anak di kota besar. Bisa juga diperdagangkan.

Beberapa kasus yang pernah muncul sebelum kejadian viral di Makassar. Anak korban penculikan di Banten ternyata dijadikan pengemis di Pasar Minggu Jakarta. Anak korban penculikan dibunuh untuk dijual organnya terjadi di Makassar, pelaku anak remaja dan mahasiswa.

Sejak tahun 2019 sampai 2023 polisi sudah melakukan tindakan pada 95 kasus penculikan dan perdagangan anak. Artinya setiap tahun ada 18-19 kasus penculikan dan perdagangan anak.

Judul berita tahun 2023, penculik sasar sembarang anak, motifnya untuk dieksploitasi bukan lagi minta tebusan. Semua harus waspada.

Untuk membuat efek jera para penculik, sudah saatnya untuk meninjau hukuman pada mereka. Kejahatan pada anak harusnya masuk pada kejahatan berat. Penculikan, membuat trauma anak dan keluarganya. Harus diputuskan mata rantainya dengan menghukum seberat-beratnya para pelaku penculikan.

Setiap membahas tentang penculikan, ingatan saya dibawa pada ketegangan film Ransom yang dibintangi Mel Gibson. Dalam film, Mel Gibson berperan sebagai pengusaha sukses dimintai tebusan untuk anaknya yang diculik komplotan penjahat. Namun bukan mengikuti keinginan penculik, Mel Gibson malah mengadakan sayembara dengan taruhan uang yang sangat besar melebihi permintaan penculiknya. Maka konflik pun terbangun dengan apik. Akhirnya sang anak dapat kembali ke pangkuan keluarga dan pelaku penculikan terbongkar.

Itu hanyalah film, endingnya membuat penonton bahagia. Dunia nyata tentunya sangat jauh berbeda. Contoh penculikan terakhir di Makassar, seandainya polisi terlambat, maka jejak anak akan hilang. Tidak ada yang menyangka dijualnya ke suku Anak Dalam di Jambi.

Hati-Hati: Kejahatan Memanfaatkan Kerentanan Anak dan Orang Tua

Selain penculikan, modus lainnya adalah dengan penipuan memanfaatkan emosi orang tua. Caranya dengan melumpuhkan saluran komunikasi di titik penting anak. Skenario pertama memainkan emosi orang rumah, yaitu pura-pura menjadi petugas kesehatan. Mereka baru saja menerima anak yang harus dioperasi karena kecelakaan di sekolah. Terpeleset di tangga sekolah. Otomatis orang tua panik. Saat menghubungi telepon sekolah ternyata tidak bisa dihubungi karena sudah dilumpuhkan oleh komplotan lain. Sehingga telepon sekolah terdengar selalu sibuk.

Saking panik lupa bahwa bisa menghubungi kepala sekolah melalui HP. Selama perjalanan menuju rumah sakit, orang tua disibukkan terus harus segera transfer. Panik, suara pelaku dilatih untuk menghipnotis, akhirnya orang tua transfer. Setelah transfer baru sadar menghubungi kepala sekolah melalui HP. Setelah dicek anaknya aman berada di lingkungan sekolah.

Beberapa Tips Menghindari Kejahatan Pada Anak

  • Jangan panik, ajak orang lain untuk memahami situasi. Jika komunikasi dikondisikan seperti terputus, maka segera bagi tugas, ada yang ke sekolah, ada yang bertugas bertanya ke layanan servis rumah sakit.
  • Kondisi ini pernah saya alami ketika anak sudah duduk di bangku SMA. Bibi di rumah sangat panik. Tetapi mampu menghubungi tetangga sebelah rumah. Tetangga kemudian mampu menghubungi saya. Bercerita tentang kecelakaan anak. Saya dihubungi melalui nomor cadangan yang hanya saya bagi pada orang tertentu. Punya dua nomor telepon dengan HP terpisah ternyata sangat membantu.
  • Punya kontak telepon teman anak. Kebetulan kasusnya ditujukan kepada anak saya yang sudah besar. Sehingga beberapa nomor telepon temannya disave oleh istri saya. Kalau anaknya masih duduk di sekolah dasar, maka perlu dicatat juga nomor HP orang tuanya.
  • Pastikan punya kontak guru-gurunya juga. Ini untuk menghindari jika gagal menghubungi kepala sekolah.
  • Apakah saya panik, ya. Namun karena sudah siaga dengan langkah pengamanan, kepanikan itu dapat diredakan.
  • Selalu dibangun komunikasi dengan anak, berikan beberapa pembekalan jika bertemu orang asing. Berikan kode-kode yang hanya dipahami anggota keluarga. Misal punya panggilan khusus di luar yang dikenali orang.

Itulah beberapa tips berdasarkan pengalaman langsung, bukan penculikan, tetapi para penjahat memanfaatkan sisi kerentanan pada hubungan spesial anak dan orang tua.

Harapan kita, tidak ada lagi kasus kejahatan pada anak. Mereka masih pantas untuk tumbuh menikmati kehidupan dan masa depannya. Semoga!

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *