"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

IDAI Ungkap Wilayah Terparah di Sumut, Sumbar, Aceh: Jalan Terputus hingga Kekurangan Air Bersih

Wilayah Terdampak Banjir dan Longsor di Sumatera

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengidentifikasi sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang mengalami dampak terparah akibat banjir dan longsor sejak akhir November 2025. Daerah-daerah ini menghadapi tantangan berat dalam hal akses jalan, ketersediaan listrik, komunikasi, serta kebutuhan dasar seperti air bersih dan logistik.

Banyak daerah dilaporkan mengalami putus total akses jalan, sehingga membuat distribusi bantuan menjadi sangat sulit. Jaringan listrik dan komunikasi juga padam, memperburuk situasi. Warga, termasuk anak-anak yang paling rentan, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan logistik yang cukup.

Ketua IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso menyampaikan bahwa banyak dokter yang terdampak akibat bencana tersebut. Meskipun demikian, mereka tetap turun langsung untuk membantu korban di tiga wilayah tersebut. Ia mengapresiasi kolaborasi antara IDAI Cabang dengan BNPB, dinas kesehatan, TNI/Polri, dan relawan dalam memastikan bantuan kesehatan tepat sasaran.

Kondisi di Lapangan

Situasi di lapangan semakin mendesak karena akses ke banyak wilayah hanya bisa ditembus dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Hal ini menyebabkan hambatan dalam distribusi bantuan. Selain itu, fasilitas kesehatan di beberapa titik tidak dapat beroperasi optimal karena tenaga medis terjebak dan tidak bisa mencapai rumah sakit maupun posko kesehatan.

IDAI menekankan bahwa anak-anak, difabel, lansia, dan ibu hamil harus menjadi prioritas penanganan. Banyak dari mereka kini berada di lokasi pengungsian yang minim sanitasi, rawan penyakit, dan kekurangan suplai dasar seperti makanan, air minum, dan obat-obatan.

Daerah dengan Dampak Paling Berat

Sumatera Barat

Wilayah yang paling terdampak adalah Padang, Solok, Padang Pariaman, Agam (khususnya Palembayan dan Lubuk Basung), serta Pasaman Barat. Kerusakan jalan dan jembatan serta pemadaman listrik menyebabkan evakuasi dan suplai logistik tersendat.

Sumatera Utara

Sumatera Utara mengalami kerusakan terparah di Sibolga, Tapanuli Tengah, Pandan, Sipirok, Binjai, Langkat, dan sejumlah titik di Medan. Banyak jalur transportasi lumpuh, dan laporan menunjukkan puluhan korban meninggal dan ratusan warga terdampak.

Aceh

Pidie Jaya dan Aceh Utara–Lhokseumawe menjadi fokus perhatian karena akses ke sejumlah kecamatan terputus. Sejumlah fasilitas kesehatan mengalami keterbatasan operasional dan membutuhkan dukungan tenaga medis.

Gambaran Dampak Bencana

Di Sumatera Barat, tercatat 148 korban meninggal, termasuk empat anak-anak, dan 105 orang masih hilang. Di Sumatera Utara, puluhan korban jiwa dan ratusan terdampak di berbagai kabupaten/kota. Di Aceh, akses terhambat dan layanan kesehatan terganggu, terutama di Pidie Jaya.

Banyak wilayah menghadapi masalah seperti padam listrik, sinyal komunikasi terputus, minim air bersih, serta terbatasnya pakaian layak pakai dan obat-obatan.

Layanan Kesehatan Anak

IDAI menurunkan tim dokter spesialis anak untuk memberikan layanan kesehatan, pengobatan gratis, serta dukungan psikososial di berbagai lokasi terdampak.

Sumatera Utara

Pemeriksaan ratusan anak dilakukan di Binjai, Langkat, dan Medan Barat. Keluhan terbanyak meliputi ISPA, diare, dan infeksi kulit.

Sumatera Barat

Skrining tumbuh kembang dilakukan di Padang, sementara layanan pengobatan disediakan di Padang dan Pariaman.

Aceh

Penguatan layanan RSUD Pidie Jaya, mobile clinic, dan pelayanan kesehatan di posko pengungsian dilakukan.

Bantuan Lain yang Diberikan

IDAI juga melakukan distribusi air bersih, makanan siap santap, pakaian, selimut, dan perlengkapan kebersihan. Bantuan nutrisi balita di Sumbar bekerja sama dengan AIMI. Trauma healing untuk anak-anak di berbagai posko serta dukungan psikologi anak untuk pemulihan pendidikan juga dilakukan.

Kendala di Lapangan

IDAI memetakan sejumlah kebutuhan mendesak yang membutuhkan perhatian:

  • Kekurangan obat-obatan anak, terutama untuk ISPA, diare, dermatitis, dan antibiotik.
  • Logistik terbatas: air minum, makanan pokok, bahan bakar, hingga pakaian layak.
  • Akses sulit ditembus karena jalan rusak dan jembatan putus.
  • Kebutuhan tenaga kesehatan tambahan di posko.
  • Risiko tinggi penyakit menular seperti diare, ISPA, dan infeksi kulit.
Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *