Peringatan dari Kekalahan Otak Pasca-Operasi Bariatrik
Seorang pria berusia 45 tahun di Mumbai, Rajesh Kumar, menjalani operasi bariatrik pada Agustus 2024. Operasi ini dilakukan untuk mengatasi obesitas morbid yang telah menghantui dirinya selama dua dekade. Dalam enam minggu pascaoperasi, berat badannya turun sebanyak 28 kilogram, tekanan darah dan gula darahnya membaik, serta ia kembali beraktivitas tanpa merasa sesak napas. Semua parameter klinis menunjukkan keberhasilan besar.
Namun, pada minggu ketujuh, keluarga menyadari gejala yang mengkhawatirkan: Rajesh sering tersandung, lupa nama anaknya sendiri, dan mengalami penglihatan ganda. Hasil MRI dan pemeriksaan kadar tiamin serum mengarah pada satu diagnosis: ensefalopati Wernicke (malafungsi otak yang terjadi akibat kekurangan vitamin B1 [tiamin]). Kondisi ini sebenarnya dapat dicegah sepenuhnya, tetapi masih sering terdeteksi terlambat di India maupun Indonesia.
Ensefalopati Wernicke: Ancaman Serius bagi Pasien Bariatrik
Ensefalopati Wernicke bukan penyakit baru, tetapi kini menjadi ancaman serius bagi pasien bedah bariatrik. Literatur internasional mencatat insidens klinis antara 0,1–2%. Namun, di negara berkembang, angka riil bisa mencapai 4–5% bila suplementasi tiamin tidak memadai.
Di India, jumlah operasi bariatrik melonjak dari 12.000 kasus pada 2015 menjadi lebih dari 50.000 pada 2024. Di Indonesia, Perhimpunan Bedah Metabolik dan Bariatrik Indonesia (PBMBI) mencatat lebih dari 8.000 prosedur setiap tahun dengan tren yang terus meningkat.
Faktor-faktor Penyebab Kekurangan Tiamin Pasca-Operasi
Tiamin menjadi sangat rentan hilang setelah operasi bariatrik karena empat faktor utama:
- Pertama, asupan makanan turun drastis dari lebih 2.500 kilo kalori menjadi kurang dari 800 kilo kalori per hari pada bulan pertama.
- Kedua, prosedur bariatrik menghilangkan atau memintas duodenum dan jejunum proksimal, yaitu tempat utama penyerapan tiamin.
- Ketiga, mual serta muntah pascaoperasi sering membuat pasien menolak suplemen oral.
- Keempat, penurunan berat badan yang cepat justru meningkatkan kebutuhan tiamin karena percepatan metabolisme glukosa.
Dampak Kekurangan Tiamin pada Otak
Tiamin adalah kofaktor utama enzim transketolase dan piruvat dehidrogenase; kekurangannya dalam hitungan minggu dapat merusak corpus mamillare, thalamus, dan area periaqueductal grey, yang memunculkan triad klasik Wernicke: kelumpuhan gerak mata, gangguan keseimbangan, dan kebingungan berat. Jika tidak ditangani dalam 48–72 jam pertama, kerusakan menjadi permanen dan dapat berkembang menjadi sindrom Korsakoff dengan kehilangan memori yang tak tertolong.
Kronologi kasus Rajesh menunjukkan betapa rapuhnya sistem yang ada. Pada hari operasi, ia diberi resep multivitamin standar plus tiamin 100 miligram per hari, tetapi mual berat membuatnya hanya meminumnya sesekali. Pada minggu kelima hingga keenam, muntah berulang setelah makan menyebabkan suplemen dihentikan total. Minggu ketujuh ia masuk instalasi gawat darurat dengan gejala triad Wernicke klasik dan kadar thiamin serum di bawah 2 nanomol per liter (normal 70–180 nanomol per liter). Penanganan darurat dengan tiamin 500 miligram intravena tiga kali sehari selama lima hari diikuti dosis oral seumur hidup berhasil memulihkan kelumpuhan mata dan gangguan berjalan. Namun, gangguan memori ringan tetap menetap.
Pencegahan yang Lebih Agresif
Para ahli kini sepakat bahwa pencegahan harus jauh lebih agresif. Suplementasi tiamin dosis tinggi—minimal 100 miligram tiga kali sehari selama enam bulan pertama, kemudian 50–100 miligram seumur hidup—harus dimulai sejak hari pertama pascaoperasi. Multivitamin biasa tidak cukup; diperlukan formula khusus bariatrik yang mengandung bentuk tiamin yang lebih mudah diserap. Pemantauan kadar tiamin eritrosit atau aktivitas transketolase wajib dilakukan pada bulan ke-1, 3, 6, dan 12.
Edukasi praoperasi harus menekankan risiko kerusakan otak permanen, bahkan disertai penandatanganan informed consent khusus untuk defisiensi nutrisi. Puasa berkepanjangan atau diet ketogenik ekstrem tanpa pengawasan harus dilarang keras pada tahun pertama.
Di Indonesia, IKABDI dan PBM-BI telah mengeluarkan pedoman serupa sejak 2023, tetapi penerapannya masih sangat bervariasi antar-rumah sakit. Banyak pusat masih mengandalkan multivitamin generik yang hanya mengandung 1,5–3 miligram tiamin—jauh di bawah kebutuhan nyata pascaoperasi.
Kesimpulan dan Pelajaran yang Didapat
Rajesh kini menjalani rehabilitasi kognitif dan mengonsumsi tiamin dosis tinggi seumur hidup. Ia masih bisa bekerja, tetapi harus mencatat nama klien baru karena daya ingatnya tidak lagi sama. “Saya tidak menyesal menjalani operasi. Saya menyesal menganggap remeh pil kecil yang dokter katakan ‘penting sekali’,” ujarnya.
Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti calon pasien, melainkan untuk mengingatkan bahwa operasi bariatrik adalah pertukaran permanen: tubuh yang lebih sehat dengan syarat disiplin seumur hidup. Tubuh ramping memang indah, tetapi otak yang rusak tidak pernah bisa diperbaiki sepenuhnya. Bagi siapa saja yang sedang mempertimbangkan pisau bedah demi kesehatan, ingatan akan Rajesh menjadi pengingat yang tegas: jangan pernah mengorbankan otak hanya demi langsing.











