Penjelasan Nabi Muhammad tentang Manfaat Puasa
Nabi Muhammad SAW telah memberikan penjelasan tentang manfaat puasa baik dari sisi keagamaan maupun kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak yang memberikan jawaban kebenaran sabda nabi dengan hasil penelitian ilmiahnya, termasuk penemuan Dr. Jason Fung tentang metode diet dengan Intermittent Fasting (IF).
Apa Itu Intermittent Fasting?
Intermittent Fasting atau IF adalah pengaturan pola makan dengan cara berpuasa, yaitu menggunakan jeda waktu untuk bisa mengonsumsi makanan. Metode ini umum digunakan sebagai cara yang mudah untuk menurunkan berat badan ideal dengan beberapa keunggulan:
- Tidak perlu menyiapkan makanan khusus dengan harga yang mahal.
- Tetap dapat mengkombinasikan menu makanan.
- Dapat memotong kadar asupan karbohidrat dan gluten sebesar hingga 65%.
Selain itu, IF memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh seperti:
- Menurunkan kadar gula darah.
- Menurunkan berat badan.
- Menjaga kesehatan jantung dan menurunkan kolesterol.
- Mengurangi rasa lapar yang terlalu sering.
- Meningkatkan metabolisme sampai 14%.
- Mengurangi ketergantungan pada makanan tinggi gula.
- Mengurangi rasa cemas dan stres, serta dapat menghindari asupan makanan berlebihan.
Berbagai Cara Praktik IF
Berikut praktik IF sesuai penjelasan dokter gizi klinik Mitra Keluarga Bekasi Barat, dr. Hadi S. Muktisendjaja, Sp.GK:
16/8
Cara ini paling populer, yaitu 16 jam puasa dan 8 jam makan (waktunya boleh makan). Misalnya, berhenti makan tepat jam 8 malam, lalu tidak makan hingga jam 12 siang. Antara jam 12 siang sampai jam 8 malam, kita boleh mengonsumsi makanan. Ketika berada pada jeda waktu puasa, kita boleh minum air mineral, teh dan kopi tanpa gula untuk mencukupi hidrasi.
Eat-stop-eat
Cara kedua ini juga cukup populer, kita berpuasa selama 24 jam dalam 1 hari, namun masih diperbolehkan untuk minum. Kemudian, di hari selanjutnya kita boleh mengkonsumsi makanan atau minuman seperti biasanya dalam 24 jam. Cara ini kita dapat mengatur waktu kapan akan berpuasa dalam seminggu, misalnya berpuasa seharian penuh ini dalam 2 atau 3 kali sepekan. Catatan: tetap perhatikan dan menjaga pola makan.
Alternate Day Fasting
Cara ini beda dengan sebelumnya, alternate day fasting memerlukan waktu berpuasa selama 36 jam atau hampir dua hari. Setelah 36 jam, kita bisa mengkonsumsi makanan normal seperti biasa. Keterangan: Pada puasa ini, diwajibkan untuk banyak mengonsumsi air agar tidak dehidrasi.
Warrior Intermittent Fasting
Sedangkan cara yang ke 4 adalah dengan puasa selama 20 jam, dan 4 jam merupakan jeda waktu untuk makan. Bagi yang ingin menjalani cara ini, tetap jaga pola makan dengan mengutamakan hidangan makanan sehat dan tinggi gizi.
Syar’i Fasting
Jauh banget sebelum IF disebarluaskan, Nabi telah memberikan instruksi sebagaimana disabdakan, artinya, “Berpuasalah kalian, maka akan sehat.” Ada puasa yang disunahkan, ada pula yang diwajibkan, mestinya umat islam sehat semua, realiatanya? Masih ada, bahkan banyak yang sakit, mungkin kita belum mematuhi prosedur makan yang benar sebagaimana dalam Al-Qur’an, artinya: “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (QS. Al-Baqarah ayat 168). Bisa jadi makanan kita sudah halal, tapi mungkin tubuh tidak membutuhkan (bisa karena jenisnya). Atau mungkin kita juga masih menyalahi SOP makan dari Nabi,”Tidaklah seorang anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya” (HR. Tirmidzi). Kita mungkin sering makan sepuasnya, tak berhenti sebelum puas (apalagi setelah seharian puasa), walau sudah kenyang.
Puasa Sunnah dan Keutamaannya
Berikut puasa sunnah yang bisa kita amalkan, selain manfaat sehat, pundi-pundi nilai pahala luar biasa juga kita dapatkan.
Puasa Arafah dan Delapan Hari Sebelumnya
Puasa Arafah disunahkan pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan disunahkan pula 8 hari sebelumnya dimulai dari tanggal 1 (total puasa menjadi 9 hari) dan berlebaran pada tanggal 10-nya (Hari Raya Idul Adha). Sebagaimana sabdabta, “Puasa Arafah melebur dosa satu tahun lalu dan satu tahun yang akan datang,” (HR Muslim). Pada hadis yang lain, artinya “Tidak ada satu hari yang di dalamnya Allah lebih banyak membebaskan hamba dari siksa neraka selain hari Arafah,” (HR. Muslim).
Puasa Asyura dan Tasu’a
Puasa ini disunahkan pada tanggal 10 dan 9 Muharram. Keutamaannya menghapus dosa satu tahun ke belakang. Sabda Nabi, artinya, “Puasa Asyura melebur dosa satu tahun yang lalu,” (HR Muslim).
Puasa Senin-Kamis
Puasa ini disunahkan setiap hari Senin dan Kamis setiap minggunya. Keutamaannya adalah menyertai dilaporkannya amal manusia pada hari-hari tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah saw. Sabda artinya, “Amal-amalan itu ditunjukkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Maka aku ingin amalku ditunjukkan saat aku sedang berpuasa,” (HR At-Tirmidzi).
Puasa Bulan Sya’ban
Sabda Nabi, artinya: Saat Nabi saw. ditanya karena memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, beliau menjawab, “Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat. Aku ingin amalku diangkat pada saat aku berpuasa,” (HR. Ahmad).
Puasa Ayyamul Bidh
Menurut sebagian ulama, yang lebih tepat istilahnya adalah puasa Layalil Bidh, sebab siang hari yang disunahkan puasa itu, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 dalam setiap bulan Hijriah, malam-malam harinya sedang terang bulan. Dikecualikan, pada bulan Dzulhijjah karena tanggal 13 bertepatan dengan hari Tasyriq. Keutamaannya sebagaimana sabda Nabi, “Puasa tiga hari dalam setiap bulan laksana puasa satu tahun,” (HR. Muslim).
Puasa Enam Hari Bulan Syawal
Sabda Nabi, artinya, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun,” (HR. Abu Dawud).
Puasa Dawud
Maksud puasa Dawud adalah selang sehari: sehari berpuasa, sehari berbuka. Demikian seterusnya. Disampaikan Rasulullah saw. puasa ini termasuk puasa sunah yang paling utama. Sebab, tidak ada puasa yang memakan waktu sampai setengah tahun kecuali puasa Dawud ini dan tidak ada nabi yang kuat menunaikannya kecuali Nabi Dawud a.s. Dalam sabdanya artinya, “Sebaik-baiknya puasa adalah puasa saudaraku, yaitu Dawud. Ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari,” (HR. Ahmad).
Puasa Bulan-bulan Haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa Nabi saw. menganjurkan berpuasa pada bulan-bulan tersebut.
Puasa Ketiadaan Makanan (puasa dahri)
Rasulullah saw sendiri mencontohkan puasa ini saat pagi hari tidak mendapati makanan di rumah istrinya. Puasa ini bisa langsung dilaksanakan dan diniatkan selama pagi harinya belum makan apa-apa dan belum melewati waktu zhuhur.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











