"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Kisah Nus Kei, Paman John Kei yang Tewas Ditikam, Pernah Jadi Korban Kasus Blowfish

Peristiwa Tragis di Bandara Karel Sadsuitubun

Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora, meninggal dunia setelah menjadi korban penikaman oleh orang tak dikenal (OTK) di Bandara Karel Sadsuitubun, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (19/4/2026) saat korban sedang berada di area bandara.

Nus Kei sempat mendapatkan pertolongan medis dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun, nyawanya tidak tertolong karena mengalami luka serius akibat serangan tersebut. Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyebut korban mengalami empat luka tusuk di bagian vital tubuhnya, yaitu dada kanan dan kiri, leher sebelah kiri, serta tulang belakang.

Menurut Dave, tim medis berupaya memberikan penanganan maksimal kepada korban. Namun, kondisi luka yang cukup parah membuat nyawa Nus Kei tidak dapat diselamatkan. Usai kejadian, Nus Kei langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif. Ia sempat menjalani perawatan beberapa saat sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa ini menarik perhatian masyarakat setempat, terlebih karena terjadi di area publik seperti bandara. Aparat keamanan kini masih melakukan penyelidikan guna mengungkap pelaku serta motif di balik penikaman tersebut.

Riwayat Konflik Nus Kei

Nus Kei diketahui bukan sosok baru dalam berbagai konflik yang terjadi sebelumnya. Ia disebut memiliki riwayat perselisihan yang cukup panjang, salah satunya terkait sengketa lahan yang terjadi pada tahun 2020 di wilayah Maluku. Perselisihan tersebut bahkan berdampak hingga ke wilayah Jakarta dan Tangerang.

Rumah Nus Kei di kawasan Green Lake City, Tangerang, serta di Duri Kosambi, Jakarta Barat, sempat didatangi dan dirusak oleh sekelompok massa. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 2021 lalu, Nus Kei mengungkapkan bahwa salah satu anak buahnya menjadi korban pembacokan dalam insiden tersebut.

Saat itu, ia bergegas menuju lokasi kejadian setelah mendapat kabar adanya penyerangan. Sesampainya di lokasi, ia melihat salah satu rekannya sudah tergeletak dengan luka serius. Tidak hanya itu, Nus Kei juga mengaku rumahnya dalam kondisi rusak setelah diserang. Ia menyebut seluruh bagian rumah, khususnya lantai satu, mengalami kerusakan parah.

Dalam kesaksiannya di persidangan, Nus Kei juga sempat memastikan kondisi keluarganya yang saat itu menyelamatkan diri dari serangan. Selain konflik lahan, Nus Kei juga pernah terseret dalam peristiwa kerusuhan di tempat hiburan malam Blowfish pada tahun 2010 di Jakarta. Dalam kejadian tersebut, ia menjadi korban pemukulan yang kemudian memicu keributan besar antar kelompok.

Peristiwa itu menewaskan dua orang dan menyebabkan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Kerusuhan tersebut berawal dari konflik bisnis yang melibatkan perebutan lahan usaha, termasuk jasa keamanan serta distribusi kebutuhan tempat hiburan malam. Bahkan, dampak dari kasus Blowfish juga merembet hingga ke persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang sempat diwarnai bentrokan antar kelompok massa.

Terduga Pelaku Pembunuhan Nus Kei

Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi mengatakan, kedua pelaku ditangkap usai dilakukan pengejaran tidak lama setelah kejadian penusukan Nus Kei. Menurut dia, Hendrikus dan Finis terduga pelaku memiliki motif dendam lama terhadap korban.

“Motifnya adalah dendam. Kedua pelaku meyakini bahwa korban merupakan otak di balik pembunuhan saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, yang tewas di dekat Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi, beberapa tahun lalu,” ujar AKBP Rian Suhendi.

Diketahui, peristiwa penikaman terhadap Nus Kei terjadi sesaat setelah korban turun dari pesawat asal Ambon sekitar pukul 11.10 WIT. Ketika berjalan menuju pintu keluar bandara untuk menemui keluarganya, korban didatangi pelaku yang mengenakan jaket merah dan masker. Pelaku kemudian langsung menyerang Nus Kei menggunakan senjata tajam.

Kakak korban, Antonius Rumatora, sempat berusaha menghentikan aksi pelaku dengan memeluk dan membantingnya. Namun pelaku berhasil melawan dan melarikan diri dari lokasi kejadian. Meski sempat berlari masuk ke dalam area bandara, Nus Kei akhirnya ambruk akibat pendarahan hebat. Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun. Namun setibanya di rumah sakit, Nus Kei dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 11.44 WIT.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban mengalami empat luka tusuk di bagian dada kanan dan kiri, leher sebelah kiri, serta bagian tulang belakang.

Profil Hendrikus Rahayaan

Di balik kasus ini, nama Hendrikus Rahayaan menjadi perhatian karena diketahui merupakan atlet Mixed Martial Arts (MMA) nasional. Hendrikus lahir di Watran, Kota Tual, Maluku, pada 6 Desember 1997. Ia juga dikenal sebagai keponakan dari John Kei, tokoh asal Maluku Tenggara yang lama bermukim di Jakarta.

Dalam sejumlah wawancara sebelumnya, Hendrikus mengaku sejak kecil memiliki hobi berkelahi hingga kerap terlibat tawuran. Namun kebiasaan tersebut kemudian diarahkan ke dunia olahraga bela diri. “Lebih baik bikin baku pukul jalanan itu jadi prestasi saja biar jadi kebanggaan keluarga,” kata Hendrikus dalam wawancara tahun 2023.

Karier Hendrikus di dunia MMA dimulai dengan latihan keras bersama kakeknya yang merupakan pelatih bela diri. Kakeknya diketahui menguasai sejumlah cabang olahraga seperti Muay Thai, Wushu, dan Boxing. Berkat latihan tersebut, Hendrikus berhasil masuk ke dunia profesional dan bertarung di ajang One Pride MMA kelas bantam.

Pada awal kariernya, ia sempat meraih kemenangan cepat dengan menumbangkan M Ricky Syahputra lewat TKO dalam waktu 22 detik. Ia juga berhasil mengalahkan Boido Simanjuntak pada ronde ketiga. Kini, Hendrikus justru harus berhadapan dengan proses hukum setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Nus Kei.

Polisi masih mendalami peran masing-masing pelaku serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam aksi tersebut.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *