Penggemar balap motor di Italia tampaknya sedang mengalami penurunan antusiasme terhadap pembalap muda yang berlaga di ajang balap motor. Meskipun memiliki sejarah panjang dalam dunia balap, kini masyarakat Italia lebih fokus pada dua ajang utama, yaitu MotoGP dan World Superbike.
Di MotoGP, Italia memiliki Marco Bezzecchi, pembalap muda yang sedang naik daun bersama tim Aprilia Racing. Bezzecchi saat ini menjadi pemimpin klasemen setelah selalu memenangkan tiga balapan awal MotoGP 2026. Sementara itu, di World Superbike, Nicolo Bulega menjadi jagoan Italia yang membalap untuk tim Ducati Aruba.it Racing.
Namun, ajang balap Kejuaraan Dunia kelas Moto2 dan Moto3 justru tidak mendapat perhatian yang cukup besar dari publik. Rating televisi terhadap siaran Moto3 dan Moto2 dikabarkan terus menurun dan lebih rendah dibandingkan World Superbike. Padahal, Italia juga memiliki pembalap muda potensial yang baru saja meraih kemenangan pertamanya di kelas Moto3, yaitu Guido Pini.
Guido Pini mencetak kemenangan dalam balapan Moto3 Amerika 2026. Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama pembalap Italia di kelas Moto3 sejak tahun 2022 lalu, ketika Dennis Foggia meraih empat kemenangan dalam semusim. Namun, nama Guido Pini justru tidak dikenal di Italia. Bahkan setelah kemenangannya di Amerika, akun Instagramnya hanya memiliki 21 ribu pengikut, jauh lebih sedikit dibandingkan petenis tunggal putra Italia dengan ranking 140 dunia, Luca Nardi, yang memiliki 73 ribu pengikut.
Situasi ini berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Setelah pembalap asal Gunungkidul, Yogyakarta, Veda Ega Pratama mencetak podium bersejarah pada Moto3 Brasil 2026, demam Veda menjalar ke seluruh penjuru negeri dan mendapatkan banyak dukungan.
Veda menjadi pembalap Indonesia yang berhasil meraih podium di ajang Kejuaraan balap motor paling bergengsi di dunia, meski di kelas Moto3. Manajer proyek tim REDS Fantic Racing, Stefano Bedon, kemudian membedah alasan rating siaran Moto3 dan Moto2 sangat sulit di Italia.
REDS Fantic Racing sendiri merupakan tim balap di kelas Moto2 yang berbasis di Italia. “Ini masa-masa sulit bagi Moto3 dan Moto2,” ujar Bedon.
“Biaya semakin tinggi dan visibilitas semakin berkurang. Misalnya, SkySports tidak lagi menayangkan wawancara di paddock; begitu balapan selesai, mereka langsung beralih ke MotoGP.”
“Perhatian (Moto2 dan Moto3) semakin berkurang.”
“Kelas-kelas ini, sebaliknya, penting karena merupakan tujuan akhir yang dapat dicapai oleh mereka yang memulai perjalanan bertahun-tahun sebelumnya,” ujar Bedon.
Menurutnya, paspor sekarang menjadi lebih penting daripada bakat pembalap dan biaya terus melonjak di semua kelas, termasuk MotoGP.
“Kami adalah universitas balap motor. Setelah meraih gelar sarjana, hanya ada ruang bagi segelintir pembalap yang terpilih, namun MotoGP kini adalah dunia yang berbeda.”
“Hanya sedikit yang mencapai kelas utama (MotoGP), dan tidak selalu yang paling berbakat yang sampai di sana, ada faktor-faktor lain yang turut berperan,” ujarnya.
Di Indonesia, siaran free-to-air atau gratis juga menjadi perhatian setelah Trans7 selaku pemegang hak siar tidak menayangkan balapan kelas Moto3 dan Moto2 pada seri balapan GP di Thailand dan Brasil. Padahal, Indonesia memiliki dua pembalap yang sedang berjuang yakni Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama.
Trans7 kemudian baru menayangkan seluruh rangkaian kelas balapan mulai dari Moto3, Moto2, hingga MotoGP pada GP Amerika. Para penggemar di Indonesia harus mengeluarkan biaya untuk membeli langganan streaming via platform tersedia seperti Vidio atau SPO TV jika ingin menyaksikan seluruh tayangan lengkap MotoGP semua kelas.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











