"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Denada ungkap kisah Ressa, pastikan tak pernah abaikan anaknya

Kisah Emosional Denada Tambunan tentang Putranya, Ressa Rizky Rossano

Denada Tambunan, seorang penyanyi sekaligus aktris ternama, mengungkapkan kisah pribadinya yang sangat emosional terkait putranya, Ressa Rizky Rossano. Dalam wawancara yang dilakukannya di kanal YouTube milik Feni Rose, ia secara terbuka menceritakan pengalaman hidupnya selama bertahun-tahun lalu, termasuk keputusan besar yang diambil untuk masa depan anaknya.

Dalam perbincangan yang penuh air mata, Denada menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menelantarkan sang anak. Ia menjelaskan bahwa semua keputusan yang diambil adalah demi kebaikan terbaik bagi Ressa. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan pilihan yang diambil dengan rasa takut, bingung, dan tanggung jawab yang sangat berat.

Denada mengingat kembali masa-masa awal tahun 2000-an, saat ia harus berhadapan dengan realitas sosial yang sangat berbeda dibanding sekarang. Saat itu, masyarakat belum begitu terbuka dalam memandang perempuan yang hamil di luar pernikahan. Tekanan sosial sangat besar, dan ia merasa sendirian dalam menghadapi situasi ini.

Namun, meski dalam ketakutan dan tekanan, Denada merasa memiliki naluri sebagai seorang ibu yang kuat. Ia percaya bahwa Ressa adalah darah dagingnya sendiri dan harus dijaga, dilindungi, serta diperjuangkan. Bagi Denada, kehadiran Ressa memberinya kekuatan untuk bertahan di tengah badai penilaian sosial.

Ia juga mengungkap bahwa ia sempat berbicara dengan ayah kandung Ressa mengenai kehamilan itu. Namun, dari awal ia sudah memprediksi bahwa dukungan dari pihak tersebut akan terbatas. Meskipun begitu, Denada memilih untuk tidak menyimpan kebencian. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menyalahkan siapa pun, tetapi fokus pada keselamatan dan masa depan anaknya.

Keputusan untuk melanjutkan kehamilan pun menjadi pilihan besar yang harus ia tanggung sendiri. Di tengah tekanan sosial, Denada merasa seperti hanya ada dirinya dan anak yang belum lahir yang sedang melawan dunia. Perasaan itulah yang kemudian menumbuhkan ikatan batin yang sangat kuat antara dirinya dan Ressa.

Namun, perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Denada mengakui bahwa ada masa di mana ia tidak berani jujur kepada ibunya, Emilia Contessa. Ia memilih menyembunyikan kehamilan itu sampai usia kandungannya cukup besar. Bahkan, ia tidak lagi mengingat pasti di bulan ke berapa akhirnya ia membuka semuanya kepada sang ibu.

Ketika kehamilan itu akhirnya diketahui, Denada harus menghadapi fase lain yang tidak kalah berat. Di satu sisi, ia bersikeras ingin mempertahankan anaknya dan merawatnya sendiri. Di sisi lain, ia mulai dihadapkan pada berbagai pertanyaan realistis dari ibunya mengenai masa depan Ressa.

Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut Denada, sangat menohok sekaligus membuka matanya. Emilia Contessa bertanya bagaimana nanti nasib anak itu ketika lahir, bagaimana saat masuk sekolah, bagaimana jika suatu hari Ressa mulai bertanya tentang ayahnya, dan apakah Denada benar-benar siap menghadapi semua kemungkinan sosial yang akan dihadapi anaknya.

Denada mengaku saat itu ia belum benar-benar memikirkan sejauh itu. Naluri keibuannya sangat kuat, tetapi ia juga sadar bahwa cinta saja mungkin tidak cukup untuk menjawab seluruh tantangan hidup yang akan datang. Ia mulai memahami bahwa membesarkan anak bukan hanya soal keinginan untuk selalu dekat, tetapi juga soal menciptakan lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang sang anak.

Dalam situasi itulah, ibunya kemudian menawarkan satu jalan yang sangat berat namun dianggap paling realistis. Emilia mengusulkan agar Ressa dirawat oleh keluarga dekat, yakni Om Dino dan Tante Ratih. Mereka adalah bagian dari keluarga besar yang tinggal di Banyuwangi, tempat sebagian besar keluarga dari pihak ibu berada.

Awalnya, tawaran itu tentu bukan sesuatu yang mudah diterima Denada. Sebagai ibu kandung, ia ingin berada di sisi anaknya, merawatnya sendiri, melihat tumbuh kembangnya setiap hari. Namun seiring waktu, ia mulai mempertimbangkan usulan tersebut dengan hati yang semakin terbuka.

Denada membayangkan bahwa bila Ressa tumbuh bersama Om Dino dan Tante Ratih, sang anak akan memiliki lingkungan keluarga yang lebih utuh. Ia akan melihat sosok ayah dan ibu dalam satu rumah, tumbuh di tengah keluarga besar yang dekat, dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari banyak orang.

Denada juga mengaku sempat memikirkan soal masa sekolah Ressa di masa depan. Ia tidak ingin sang anak menjadi sasaran pertanyaan atau perlakuan yang bisa melukai mentalnya. Dalam benaknya saat itu, hidup di lingkungan keluarga besar di Banyuwangi akan memberi Ressa perlindungan yang lebih kuat.

Meski berat, Denada akhirnya mengambil keputusan yang menurutnya paling baik untuk anaknya. Ia mengizinkan Ressa diasuh oleh Om Dino dan Tante Ratih. Namun keputusan itu, sekali lagi, bukan berarti ia menyerahkan anaknya lalu pergi begitu saja tanpa kepedulian.

Denada menegaskan bahwa sejak awal ia tetap menjadi ibu yang memperhatikan putranya. Walau tidak selalu hadir secara terbuka, ia diam-diam terus memantau perkembangan Ressa melalui ibunya. Ia mengikuti kabar tumbuh kembang sang anak, menjaga koneksi emosional itu dalam caranya sendiri, meski dari kejauhan.

Pengakuan ini menjadi penting karena sekaligus membantah anggapan bahwa dirinya menelantarkan anak. Dalam sudut pandang Denada, keputusan tersebut justru diambil dengan penuh luka dan pertimbangan, demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Ressa.

Cerita yang disampaikan Denada bukan sekadar kisah pribadi seorang figur publik. Ini adalah gambaran tentang betapa rumitnya pergulatan seorang perempuan ketika harus memilih antara keinginan hati dan realitas sosial. Ia harus memikirkan masa depan anaknya, menghadapi rasa bersalah, tekanan keluarga, penilaian masyarakat, dan di saat yang sama tetap berdiri sebagai seorang ibu.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *