JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) sedang mempertimbangkan peluang kolaborasi riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan teknologi menuju jaringan generasi keenam atau 6G.
VP Technology Strategy and Consumer Product Development Telkomsel Ronald Limoa menyatakan bahwa peluang ini terbuka seiring dengan berbagai riset yang tengah dilakukan BRIN, termasuk pengembangan antena mikrostrip berukuran mini serta komunikasi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO).
“Kajian BRIN terkait antena perangkat dan sistem phased-array untuk satelit sejalan dengan arah tersebut,” kata Ronald kepada Bisnis pada Kamis (12/3/2026).
Ronald menjelaskan bahwa secara global, riset 6G mengarah pada integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial (Non-Terrestrial Networks/NTN), yakni penggabungan BTS darat dengan satelit dan platform udara untuk mewujudkan konektivitas yang benar-benar merata, termasuk di wilayah terpencil dan dalam kondisi darurat.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Ronald menyebut bahwa Telkomsel melalui ekosistem Telkom Group juga memiliki fokus pada eksplorasi integrasi layanan satelit sebagai pelengkap jaringan terestrial. Eksplorasi tersebut dilakukan melalui penjajakan potensi kerja sama strategis untuk mengakomodasi integrasi dengan jaringan Non-Terestrial Network (NTN), termasuk melalui studi teknis dan eksplorasi model kerja sama.
Bagi masyarakat, lanjut dia, integrasi jaringan ini berpotensi menghadirkan akses komunikasi yang lebih andal di wilayah blank spot, serta mendukung layanan publik, kebencanaan, hingga aktivitas ekonomi di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dengan mempertimbangkan bahwa standar teknis 6G masih dalam tahap kajian global, Ronald mengatakan Telkomsel terbuka terhadap potensi kolaborasi riset dengan BRIN dan pemangku kepentingan nasional lainnya, khususnya ketika ekosistem nasional dan kerangka standar internasional semakin matang dan terarah.
Ronald menambahkan bahwa berdasarkan perkembangan global terdapat sejumlah tantangan strategis dalam perjalanan menuju implementasi 6G.
Berikut beberapa tantangan utama yang disampaikan oleh Ronald:
-
Kebutuhan spektrum baru, termasuk pita frekuensi ultra-tinggi seperti sub-THz dan THz, yang hingga kini masih dalam tahap kajian dan belum tersedia secara komersial. “Spektrum ini menjanjikan kecepatan sangat tinggi, namun membutuhkan model kebijakan, teknologi perangkat, dan infrastruktur yang benar-benar baru,” kata Ronald.
-
Standarisasi global 6G diperkirakan baru akan selesai menjelang 2029, dengan komersialisasi bertahap setelah 2030. Selama arah standar belum final, industri secara global masih berhati-hati dalam melakukan investasi besar.
-
Ketersediaan perangkat dan ekosistem, mulai dari chipset, handset, hingga model bisnis, serta kebutuhan investasi jaringan yang signifikan menjadi tantangan tambahan, khususnya bagi negara berkembang.
Karena itu, Ronald mengatakan Telkomsel menilai langkah paling relevan saat ini adalah memaksimalkan pemanfaatan 5G dan 5G Advanced, sembari memperkuat fondasi teknologi seperti AI-driven network operations, edge computing, dan cloud-native architecture.
Fondasi ini nantinya akan menjadi tulang punggung transisi menuju jaringan AI-native, berlatensi sangat rendah (ultra-low latency), dan lebih efisien energi pada era 6G. Dengan pendekatan tersebut, lanjut Ronald, Telkomsel memastikan bahwa setiap inovasi teknologi tetap berorientasi pada manfaat nyata bagi pelanggan dan masyarakat.
“Sekaligus mempersiapkan Indonesia untuk menyongsong masa depan konektivitas generasi berikutnya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,” katanya.
Secara global, sejumlah perusahaan teknologi telah mulai mengembangkan teknologi 6G. Beberapa kawasan seperti China, Eropa, Korea Selatan, dan Taiwan bahkan telah melakukan uji coba teknologi tersebut.
Sementara itu, Indonesia saat ini masih menjadi pasar bagi teknologi generasi sebelumnya. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri, BRIN mulai mendorong pengembangan teknologi pendukung 6G melalui riset domestik. Salah satunya melalui pengembangan antena mikrostrip yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan antena seluler untuk teknologi jaringan generasi keenam di industri telekomunikasi.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN Yohanes Galih Adhiyoga mengatakan salah satu tantangan dalam penelitian antena 6G adalah dukungan infrastruktur untuk pembuatan prototipe antena.
“Dan belum termanfaatkannya prototipe yang dihasilkan periset oleh karena belum terjalin kerjasama yang kuat dengan pihak industri,” kata Yohanes kepada Bisnis pada Kamis (12/3/2025).
Yohanes menambahkan estimasi pendanaan riset pengembangan 6G belum dapat dipastikan karena riset yang dilakukan saat ini baru mencakup sebagian kecil dari keseluruhan teknologi 6G, yakni pada komponen antena. Dia menjelaskan teknologi 6G memiliki banyak komponen pendukung sehingga kebutuhan pendanaannya belum dapat dihitung secara menyeluruh. Meski demikian, dukungan riset tetap tersedia melalui berbagai skema pendanaan penelitian yang saat ini banyak ditawarkan.
Lebih lanjut, Yohanes mengatakan para periset di bidang ini berupaya mengikuti tren teknologi yang diperkirakan berkembang di masa depan. Dari sisi roadmap penelitian, saat ini riset 6G yang dilakukan masih berfokus pada pengembangan sistem antena. Dia juga meluruskan sebenarnya bukan antena single layer yang menjadi prioritas utama, melainkan jenis tersebut yang saat ini telah berhasil dibuat prototipenya dan telah melalui pengujian parameter antena.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











