Persis Solo Siap Ajukan Banding terhadap Sanksi Komdis PSSI
Persis Solo sedang mempersiapkan langkah hukum untuk mengajukan banding terkait sanksi yang diberikan oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Sanksi tersebut dijatuhkan setelah terjadi kericuhan di Stadion Gelora Bumi Kartini saat klub bermain melawan Persijap Jepara. Denda sebesar Rp135 juta dan larangan menyelenggarakan lima laga kandang tanpa penonton menjadi bagian dari sanksi yang diterima.
Manajemen Persis Solo menilai sanksi tersebut tidak sepenuhnya adil. Mereka akan membawa bukti serta fakta lapangan untuk mendukung permohonan banding mereka. Direktur PT Persis Solo Saestu (PSS), Ginda Ferachtriawan, menjelaskan bahwa pihaknya akan segera mengajukan banding setelah mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan.
“Secepatnya kita akan banding. Banding ini tidak sekedar banding tapi kita harus melampirkan bukti dan fakta yang sesuai. Kita sedang mempersiapkan, mungkin hari Senin baru bisa kita ajukan,” ujar Ginda dalam wawancara dengan media.
Komunikasi dengan Pihak Terkait
Pihak Persis Solo telah berkomunikasi dengan pihak keamanan dan panitia pelaksana pertandingan Persijap Jepara terkait insiden yang terjadi di sekitar Stadion Gelora Bumi Kartini. Ginda menyebut beberapa kendaraan yang digunakan suporter Persis Solo mengalami kerusakan di luar stadion.
“Kita sudah menghimbau sesuai regulasi. Kita selalu menghimbau agar suporter tidak hadir away begitu juga untuk suporter tamu agar tidak datang ke Manahan. Teman-teman tahu sendiri bagaimana kita memulangkan suporter tamu yang datang ke Stadion Manahan. Sekarang giliran ada kejadian di sana, dan ada kerusakan yang diarahkan kepada suporter kita lah kok kandang kita yang kena sanksi,” jelas Ginda.
Empat Keputusan Komdis PSSI
Ginda menjelaskan bahwa pihaknya baru saja menerima surat keputusan Komdis PSSI pada Jumat pagi. Dalam surat tersebut terdapat empat keputusan terkait insiden yang terjadi pada laga tandang melawan Persijap Jepara. Secara keseluruhan, sanksi yang diberikan mencapai nominal sekitar Rp135 juta, termasuk hukuman larangan menyelenggarakan pertandingan kandang dengan penonton sebanyak lima kali.
“Surat Komdis kita dapatkan tadi pagi, kurang lebih ada 4 keputusan. Kalau disimpulkan sama yang beredar itu Rp 135 jutaan termasuk 5 kali tidak boleh menyelenggarakan dengan penonton di kandang,” jelas Ginda.
Penyebab Kerusakan Stadion
Dalam keputusan Komdis PSSI, insiden pengerusakan fasilitas stadion disebut menjadi salah satu dasar penjatuhan sanksi kepada Persis Solo. Namun Ginda merasa kecewa dengan putusan tersebut, terutama karena tudingan pengerusakan diarahkan kepada suporter Persis Solo.
“Nah kalau kita baca yang dipermasalahkan kan adalah perusakannya yang dilakukan oleh suporter Solo katanya. Kalau kita sih nggak tahu ya tapi yang pasti kita kecewa putusan seperti itu. Tidak boleh menyelenggarakan 5 kali pertandingan home dengan alasan pengerusakan yang dilakukan suporter Persis Solo. Nah ini kemungkinan besar kita akan banding,” tambahnya.
Keberatan terhadap Sanksi Laga Tanpa Penonton
Selain denda, manajemen Persis Solo juga menilai sanksi lima pertandingan kandang tanpa penonton cukup memberatkan klub. Ginda berpendapat, kejadian yang terjadi di Jepara tidak seharusnya berdampak pada penyelenggaraan pertandingan kandang Persis Solo di Stadion Manahan, Solo.
“Itu yang kita keberatan saya nggak tahu ya sanksi kepada Jepara seperti apa tapi kalau sanksinya sama ya rasanya nggak fair. Wong sana yang jualan tiket ada yang menjelaskan pertandingan itu loh giliran ada pengrusakan kok yang kena sanksi kita, kandang kita,” tegas Ginda.
Harapan untuk Perbaikan Sepak Bola Indonesia
Ginda berharap kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama agar pengelolaan sepak bola Indonesia semakin baik dan insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Harapan kita sih sebenarnya sepak bola itu ya ayo kita sama-sama sosialisasikan ayo kita sama-sama taati jangan semua dibebankan kepadaku dan ketika terjadi sesuatu di sanksi atau didenda. Kita juga tahu kok faktor di lapangan banyak suporter tamu yang tetap nekat datang ke kandang lawan. Ada yang sampai bentrok ada yang tidak, nyatanya denda dan saksi tidak menyelesaikan masalah,” sebut Ginda.
“Mungkin butuh sosialisasi, kalau kita berharap ya jelas selain saya juga jadi direksi saya juga jadi panpel dan selama ini pertandingan di Solo aman-aman saja. Menurut saya kalau standarnya sudah diikuti dari piala dunia piala Asia dan sekarang terjadi insiden yang dianggap suporter kita ya coba dicari apakah betul itu suporter kita apakah itu bisa diidentifikasi,” pungkasnya.











