Roby Tremonti Tanggapi Hujatan dengan Pesan Bijak
Meski mendapat banyak kritik terkait buku Broken Strings yang ditulis oleh Aurelie Moeremans, Roby Tremonti tetap menunjukkan sikap tenang dan bijak. Ia memilih untuk merespons dengan pesan-pesan yang penuh makna di akun Instagramnya.
Pada unggahannya, Roby menulis tentang pengalaman bullying dan dampaknya terhadap seseorang. Ia menyampaikan bahwa dibully oleh orang bodoh justru bisa membuat seseorang lebih bijak dan matang secara emosional. Namun, jika bullying datang dari orang pintar, efeknya bisa sangat berat.
“Di-bully orang bodoh akan membuat kita semakin bijak dan matang secara emosional. Tapi di-bully oleh orang pintar maka neraka dunialah bagimu,” tulis Roby dalam unggahannya. Di akhir pesannya, ia menegaskan bahwa orang pintar tidak akan pernah merundung siapa pun karena mereka memiliki empati yang tinggi.
Bantah Tuduhan Nikah Paksa dan KDRT
Roby juga membantah tuduhan bahwa pernikahannya dengan Aurelie adalah pernikahan paksa. Ia menjelaskan bahwa sistem Gereja Katolik memiliki proses yang sangat ketat dalam mengawasi calon pasangan. “Tidak bisa hari ini daftar, besok nikah. Ada proses panjang, salah satunya Penyelidikan Kanonik,” jelas Roby.
Ia menambahkan bahwa setiap pasangan harus melewati wawancara empat mata dengan Romo. Jika ada unsur tekanan, pernikahan tersebut pasti tidak akan disahkan. “Mempelai wanita ditanya sendiri, ‘Apa dasar kamu mau menikah? Ada paksaan tidak?’. Kalau Romo menemukan sedikit saja kejanggalan atau keraguan, pernikahan itu tidak akan disahkan,” tambahnya.
Rahasia di Balik Surat Pembatalan (Annulment)
Roby juga mengungkapkan keheranan atas klaim pembatalan pernikahan yang diklaim telah dilakukan oleh Aurelie. Ia mengaku tidak pernah menerima surat resmi dari gereja mengenai pembatalan tersebut. “Saya tidak pernah pegang surat resmi dari gereja bahwa ada pembatalan pernikahan. Saya juga tidak pernah dapat undangan dari gereja terkait untuk pembatalan,” ujarnya.
Pengakuan Aurelie tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
Yang paling mengejutkan, Roby mengungkapkan bahwa Aurelie pernah memintanya membuat pengakuan palsu mengenai KDRT agar proses pembatalan di gereja bisa berjalan mulus. “Ada chat masuk. Dia cuma bilang istilahnya ‘jangan jadi orang yang menyebalkan deh’. Dia bilang, ‘Saya mau ngurus pembatalan nih’ gitu,” kata Roby.
Namun, ia menolak tawaran tersebut karena merasa tidak pernah melakukan tindakan kekerasan. “Syarat untuk gereja Katolik itu kan harus ada narasi dari masing-masing pasangan untuk kenapa mau gitu. Ya di situ saya harus menulis bahwa saya KDRT. Kan nggak mungkin, saya nggak melakukan. Itu lho jawabannya,” imbuhnya.
Awal Konflik dan Pengalaman Buruk Aurelie
Perseteruan antara Aurelie dan Roby bukanlah hal baru. Benih konflik bermula ketika keduanya menikah secara diam-diam pada 10 Oktober 2011, saat Aurelie masih berusia 18 tahun. Pernikahan tersebut sempat ditentang keras oleh orang tua Aurelie.
Beberapa tahun setelah berpisah, Aurelie mulai terbuka kepada publik mengenai pengalaman buruknya. Ia mengklaim bahwa selama hidup bersama Roby, ia berada di bawah ancaman foto pribadi yang akan disebarluaskan jika ia tidak menuruti kemauan pasangannya. Ia juga menyebut adanya tekanan psikis yang luar biasa hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke pelukan orang tuanya.
Pertemuan Awal dan Hubungan yang Kontroversial
Aurelie dan Roby pertama kali bertemu saat menjalani syuting iklan bersama pada tahun 2008. Dari pertemuan tersebut, keduanya dikabarkan terlibat cinta lokasi. Namun, hubungan ini menuai penolakan keras dari orangtua Aurelie karena jauhnya jarak usia antara Aurelie dan Roby.
Saat itu, usia Aurelie masih sekitar 15 tahun. Terpaut cukup jauh dengan Roby yang sudah menginjak kepala 3 (tepatnya 28 tahun). Sang ibunda bahkan sempat meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komnas Perlindungan Anak karena khawatir dengan kondisi putrinya.
Pernikahan yang Dilakukan Secara Terpaksa
Meski tak dapat restu keluarga, hubungan keduanya terus berlanjut hingga akhirnya muncul kabar bahwa Aurelie dan Roby menikah pada 2011. Pernikahan tersebut juga dikabarkan berlangsung tanpa kehadiran orangtua Aurelie.
Dikutip dari sebuah sumber, Aurelie sempat mengaku bahwa pernikahan tersebut dilakukan secara terpaksa. Pengakuan ini ia tulis di akun Facebook-nya pada 28 Desember 2013. Ia juga menegaskan bahwa pernikahan itu tidak tercatat secara negara.
Ancaman dan Kekerasan Selama Menikah
Tak hanya mengaku dipaksa menikah, Aurelie juga menyebut mengalami KDRT, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun psikis. Ia mengaku sempat diminta mengirimkan foto telanjang, yang kemudian digunakan sebagai alat ancaman.
“Aku tadinya ga berani kasih karena kalo sampe itu kesebar karir aku bisa hancur, aku pasti malu semalu malunya dan bisa bisa pulang ke Belgia.”
“Tapi, dia ngancam lagi dan ngancam lagi sampe akhirnya aku ngerasa terpaksa harus nurut,” tulis Aurelie.
Setelah menikah, Aurelie sempat tinggal di rumah orangtua Roby. Namun, kondisi tersebut justru membuatnya semakin tertekan. “Aku sampe sakit sakitan karena stress. Udah ga sayang, aku dilarang ketemu orang tua aku lagi. Dan bulan bulan terakhir disitu dia udah berani main kasar. Aku di ludahin bolak balik, di tampar di jambak,” ungkapnya.
Setelah 15 bulan menjalani pernikahan, Aurelie akhirnya berhasil berpisah dari Roby dan kembali ke orangtuanya pada 2013.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











