"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Sikap Anak SD di NTT Sebelum Maut, Ceria dan Penurut Terungkap

Siswa SD di Ngada, NTT Meninggal Dunia Secara Tragis

Kasus kematian seorang siswa SD berinisial YBR (10) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian publik setelah korban meninggal secara tragis. Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. YBR meninggalkan surat tulisan tangan yang menyentuh hati, yang ditulis dalam bahasa Ngada.

Sosok Korban

Kepala UPTD SD Negeri Rj, Maria Ngene menyampaikan dukacita atas kematian YBR. Ia menjelaskan bahwa YBR dikenal sebagai siswa yang baik, ramah, dan tidak pernah menimbulkan masalah selama belajar di sekolah. “Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” katanya.

Meski YBR dikenal baik, pihak sekolah mengakui bahwa pemantauan kondisi sosial siswa memiliki keterbatasan. Menurut Maria, pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing. “Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui,” ujarnya.

Pengakuan Wali Kelas

Wali Kelas YBR, Bonivasius Snae juga menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan bahwa YBR selalu ceria dan termasuk anak yang pintar serta jujur. “Anak ini selalu ceria di dalam kelas,” kata Boni.

Menurut Boni, YBR membawa perlengkapan alat tulis lengkap dan terlihat aktif dalam kelas. Meskipun begitu, ia tidak pernah bercerita mengenai permasalahan di rumahnya. Selain itu, Boni menyatakan bahwa YBR tidak pernah menjadi korban perundungan dari teman-temannya.

Kondisi Ekonomi dan PIP

YBR tinggal bersama neneknya, WN (80), di gubuk bambu di kebun. Sedangkan ibunya, Maria Goreti Te’a (47), tinggal sendiri. Ayah YBR merantau ke Kalimantan selama 12 tahun. Meski hidup dalam keterbatasan, YBR tetap membayar uang sekolah, meski tidak selalu tepat waktu.

Sejak kelas I hingga kelas III, YBR belum pernah menerima bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP), karena terkendala administrasi kependudukan. “Sejak kelas satu sampai kelas tiga dia belum menerima bantuan karena belum memiliki Nomor Induk Kependudukan,” ujar Maria.

Pihak sekolah kemudian menyarankan agar YBR dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga neneknya. Hal itu dilakukan karena ibu korban masih tercatat dalam Kartu Keluarga di Kabupaten Nagekeo. Pada tahun ini, sekolah telah mengusulkan YBR sebagai penerima PIP. Dana bantuan sebesar Rp 450 ribu bahkan telah tercatat masuk ke rekening. Namun, pencairan belum dapat dilakukan karena perbedaan domisili identitas orang tua.

Peristiwa Kematian

Maria Goreti mengisahkan kejadian sebelum anaknya mengakhiri hidup. Pada Kamis pagi, YBR mengeluh pusing sehingga tidak mau pergi ke sekolah. Maria Goreti khawatir anaknya ketinggalan pelajaran sehingga meminta YBR tetap masuk sekolah. Dia menawarkan mengantar YBR dengan menumpang ojek. Setelah itu, Maria Goreti tidak mengecek lagi anaknya.

Pada Kamis siang, dia mendapat kabar dari tetangga bahwa anaknya meninggal. “Saya kaget ada kabar dari tetangga. Saya pikir dia ada pergi sekolah,” ucap Maria Goreti saat ditemui di rumah duka, Jerebuu, Selasa (3/2).

Penanganan oleh Pihak Berwenang

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo meninjau lokasi dan bertemu keluarga korban. Ia menyatakan bahwa masalah administrasi kependudukan yang membuat keluarga ini luput dari sistem bantuan. “Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo,” ujarnya.

“Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” tambah Gerardus Reo.

Perhatian Nasional

Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko menegaskan bahwa kasus dugaan seorang siswa SD mengakhiri hidup di Kabupaten Ngada menjadi perhatian serius, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional. “Ini sangat-sangat menjadi atensi, bahkan bukan hanya menjadi kasus lokal NTT, namun sudah sampai ke istana,” ujarnya.

Polda NTT telah mengambil langkah cepat dan serius, khususnya dengan melibatkan jajaran Ditreskrim PPA dan PPO untuk menangani kasus tersebut secara komprehensif. “Kita juga meminta langkah dari unit PPA dan PPO Polda NTT untuk mendalami dan menangani kasus ini,” katanya.

Selain itu, Polda NTT juga telah mengirimkan tenaga profesional untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban. “Psikolog dan konselor sudah kita kirim kepada keluarga korban. Kita harap ini bisa membantu meringankan kesulitan dan beban psikologis mereka,” lanjut Kapolda NTT.

Disclaimer

Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Anda yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *