Korban Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros, Ferry Irawan
Ferry Irawan menjadi salah satu dari 10 korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros. Saat ini, tim SAR dan TNI sedang melakukan pencarian dan evakuasi korban di lokasi kejadian. Puing-puing pesawat telah ditemukan, namun proses evakuasi masih berlangsung.
Tetangga Ferry Irawan, Tohori, mengenang sosoknya sebagai seseorang yang pendiam. Menurutnya, Ferry tinggal di Jalan H. Kunen, RT 04 RW 05, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Setelah menikah, Ferry pindah ke Bogor, tetapi dalam tiga tahun terakhir ia kembali tinggal bersama orangtuanya di Pondok Melati. Sementara istrinya masih tinggal di Bogor bersama anak-anaknya.
Ferry dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara, meskipun sering bergaul dengan warga sekitar. Ia juga rajin beribadah di masjid dekat rumahnya. Dalam wawancara, Tohori menyebutkan bahwa Ferry sudah menikah selama 10 tahun dan memiliki dua anak. Ia bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak sekitar 15 tahun lalu.
Terakhir kali Ferry berkomunikasi dengan Tohori adalah pada Kamis (15/1/2026), setelah salat subuh bersama di masjid. Mereka biasa bertemu jika Ferry tidak sedang dinas luar kota. Sementara itu, ibunya Ferry terakhir berkomunikasi pada Jumat (16/1/2026). Ferry sempat memberi tahu bahwa pesawat mengalami masalah pada baling-balingnya. Namun, setelah itu tidak ada kabar lagi.
Keluarga Ferry masih berharap mukjizat dan berdoa agar Ferry ditemukan dalam kondisi selamat. Mereka belum memasang bendera kuning karena ingin menunggu informasi resmi dari pihak berwenang. Di depan rumah, hanya tenda dan kursi yang dipasang untuk tamu, termasuk Wakil Menteri KKP yang datang sejak malam hari.
Ferry Irawan merupakan analis kapal pengawas di Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) sejak 2024. Saat kejadian, ia bersama dua pegawai KKP lainnya sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain Ferry, dua pegawai KKP lainnya yang terlibat adalah Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I), pengelola badan milik negara, serta Yoga Noval, operator foto udara. Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar. Informasi awal menyebutkan bahwa pesawat mengangkut 10 orang, yaitu tujuh kru dan tiga penumpang, dengan pilot in command Capt Andy Dahananto.
Temuan Serpihan Pesawat di Gunung Bulusaraung
Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan berhasil menemukan sebagian badan dan ekor pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lokasi temuan berada di kawasan Gunung Bulusaraung, yang menjadi fokus baru operasi SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa serpihan pesawat ditemukan pada Minggu (18/1/2026) pagi sekitar pukul 08.02 Wita. Bagian yang ditemukan meliputi badan pesawat, ekor, dan jendela. Fokus operasi kini dialihkan ke pencarian dan evakuasi korban.
Arif menjelaskan bahwa setelah lokasi jatuhnya pesawat teridentifikasi, tim rescue langsung dikerahkan melalui jalur udara untuk mempercepat pencarian di medan yang sulit dijangkau. Prioritas utama adalah menemukan korban yang mungkin masih selamat.
Operasi SAR melibatkan pembagian satuan tugas (Search and Rescue Unit/SRU) darat dan udara. Sekitar 1.200 personel gabungan diterjunkan, termasuk Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, serta unsur terkait lainnya. Area pencarian dibagi ke beberapa SRU untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
Sementara itu, Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa operasi pencarian dimulai sejak pukul 06.15 Wita. Tim dibagi ke dalam unit pemantauan udara menggunakan helikopter dan unit darat yang dilengkapi drone. Pada pukul 07.46 Wita, kru helikopter melaporkan terlihat serpihan kecil berupa jendela pesawat. Beberapa menit kemudian, terpantau bagian yang lebih besar yang diduga badan dan ekor pesawat di lereng Gunung Bulusaraung.
Tim AJU (Air Jump Unit) kemudian dikerahkan menuju titik temuan badan pesawat. Namun, kondisi medan yang terjal dan ekstrem membuat faktor keselamatan personel menjadi perhatian utama. Akses menuju lokasi cukup terjal, sehingga evakuasi dilakukan dengan perhitungan matang.
Basarnas merencanakan proses evakuasi serpihan dan korban melalui jalur pendakian yang dinilai lebih aman meski memiliki jarak tempuh lebih jauh. Hingga Minggu siang, operasi SAR masih terus berlangsung dengan konsentrasi penuh di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.
Daftar Kru dan Penumpang Pesawat ATR 42-500
Berikut daftar kru dan penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak:
Kru Pesawat:
1. Pilot: Capt. Andy Dahananto
2. Kopilot: Farhan
3. FOO: Hariadi
4. Engineer 1: Restu Adi
5. Engineer 2: Dwi Murdiono
6. Pramugari 1: Florencia Lolita
7. Pramugari 2: Esther Aprilita
Penumpang (Pegawai KKP):
– Ferry Irawan
– Deden Mulyana
– Yoga Nauval
Perkembangan terbaru operasi pencarian akan terus disampaikan secara resmi oleh pihak berwenang.











