Kebun Hidroponik di Bintan: Solusi untuk Ketahanan Pangan dan Inflasi
Di akhir pekan, Arison duduk di pekarangan rumahnya sambil memisahkan bibit selada. Pria berusia kepala lima itu tampak semringah, seolah tidak pernah lelah menghabiskan waktu di kebun hidroponik yang ia bangun sendiri. Di tengah hamparan sayuran hijau yang segar, ia menunjukkan betapa pentingnya usaha ini baginya.
Arison memulai kebun hidroponiknya pada tahun 2023. Saat itu, ia sedang menjelang masa pensiun dari Komisi Penyelenggara Pemilu (KPU) Provinsi Kepri. Ia merasa perlu mencari aktivitas baru setelah meninggalkan dunia kerja. Ide untuk membuat kebun hidroponik muncul sebagai solusi yang realistis. Dengan biaya relatif rendah dan manfaat yang besar, hidroponik menjadi pilihan yang tepat bagi dirinya.
Dengan lahan seluas 300 meter persegi, Arison mulai membangun sistem hidroponik. Ia menggunakan pipa paralon dengan ukuran berbeda dan melubangi setiap pipa agar bisa digunakan sebagai tempat penyemaian bibit. Selain itu, ia juga membutuhkan baja ringan dan plastik UV untuk atap kebun tersebut. Proses penyiraman air diatur dengan bantuan mesin pompa agar air dapat mengalir secara merata.
Hasil panen dari kebun hidroponik ini cukup menguntungkan. Setiap bulan, Arison bisa meraup pendapatan antara Rp 2 hingga Rp 3 juta. Jumlah ini cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga, termasuk air, listrik, dan belanja dapur. Selain itu, 5 persen dari hasil produksi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan sisanya dijual ke para pengepul di sekitar Kabupaten Bintan.

Gubernur Kepri, H Ansar Ahmad, juga mendukung inisiatif seperti ini. Ia mengajak pegawai pemerintah daerah untuk menanam cabai dan sayur-sayuran di pekarangan rumah masing-masing. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dan membantu menekan inflasi.
Ansar bahkan sudah menanam cabai di pekarangan rumahnya. Ia berharap aksi ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk ikut serta dalam upaya penguatan ketahanan pangan. “Sekali panen, saya bisa mendapatkan dua sampai tiga ons cabai. Lumayan untuk konsumsi di rumah,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kepri juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang aktif dalam pertanian. Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menyampaikan dukungan penuh terhadap program ini. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung pengembangan sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Menurut data Laporan Akhir Neraca Bahan Makanan Tahun 2025, produksi cabai besar di Kepri hanya mencapai 4.508 ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 12.074 ton per tahun. Artinya, hanya sekitar 37,38 persen kebutuhan yang terpenuhi. Sementara itu, untuk cabai rawit, produksi lokal hanya mencapai 1.488 ton per tahun, atau sekitar 19,34 persen dari kebutuhan.

Cabai dan sayur-sayuran masih menjadi komoditas utama yang menyumbang inflasi di Provinsi Kepri. Menurut Badan Pusat Statistik Kepri, inflasi tahunan pada Desember 2025 mencapai 3,47 persen. Komoditas seperti cabai rawit, angkutan udara, daging ayam ras, emas perhiasan, dan beras menjadi penyebab utama kenaikan harga.
Arison, yang telah memulai kebun hidroponiknya sendiri, mengaku belum mencoba menanam komoditas lain selain selada, seledri, dan sawi. Namun, ia berencana untuk menanam cabai dan kangkung di masa depan. “Kawan-kawan saya sesama petani hidroponik sudah mulai menanam kangkung dan cabai. Saya mungkin akan mencobanya di kemudian hari,” kata Arison.











